DODGERS_Fans

There was an error in this gadget

Friday, November 21, 2008

HISTORY OF MALUKU II

Dutch era

Maluku people's resistance against the Portuguese, the Dutch used to set foot in Maluku. In the year 1605, the Netherlands successfully forced the Portuguese to submit pertahanannya in Ambon to Steven van der Hagen and the Tidore to Cornelisz Sebastiansz. Similarly, the British stronghold in Kambelo, Seram Island, was destroyed by the Netherlands. Since that time the Dutch have successfully mastered most of the Northeast region.
The position of the Netherlands in Maluku stronger with the establishment of VOC in the year 1602, and since that time the Dutch authorities into a single in the Moluccas. Under the leadership of Jan Pieterszoon Coen, Chief Operating VOC, trade clubs in the Northeast sepunuh under the control of VOC for nearly 350 years. For the purposes of this VOC not shrink oust competitors; Portuguese, Spanish, and English. Even tens of thousands of people become victims of brutality Maluku VOC. At the beginning of year 1800 began attacking the UK and take control of the areas of power, such as the Netherlands in Ternate and Banda. And, in the year 1810 English Maluku control by placing a regiment general named Martin Bryant. However, according to the London Convention that year in 1814 decided the UK should give back all Dutch colony to the Dutch, the Netherlands starting in 1817 set back power in Maluku.

Heroes

Return of Dutch colonial in 1817 received strong challenges from the people. This is because the political, economic, and social relations that bad for two centuries. Maluku people finally rose up arms under the leadership of Thomas Matulessy given the degree lieutenant Pattimura, a former British army sergeant major. On May 15, 1817 attacks launched against the stronghold Duurstede''Dutch''on the island of Saparua. Resident van den Berg killed. Pattimura in this match, assisted by his friends; Latumahina Philip, Anthony Ribok, and Said command. The first victory is the spirit of resistance across the Northeast. Paul Tiahahu and daughter Christina Martha Tiahahu struggle in the island Nusalaut, and the lieutenant Ulupaha in Ambon. But resistance is ultimately the people with full trickery and chicanery can ditumpas power Netherlands. Pattimura on 16 December 1817 uninspiring in the gallows, in Fort Niew, Victoria, Ambon. Meanwhile, Christina Martha Tiahahu died on the cruise ships to their island of Java and jasadnya released to the Banda sea.

Era Belanda

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis, dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan kakinya di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil memaksa Portugis untuk menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen dan di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Maluku.
Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602, dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku. Di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, Kepala Operasional VOC, perdagangan cengkih di Maluku sepunuh di bawah kendali VOC selama hampir 350 tahun. Untuk keperluan ini VOC tidak segan-segan mengusir pesaingnya; Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahkan puluhan ribu orang Maluku menjadi korban kebrutalan VOC. Pada permulaan tahun 1800 Inggris mulai menyerang dan menguasai wilayah-wilayah kekuasaan Belanda seperti di Ternate dan Banda. Dan, pada tahun 1810 Inggris menguasai Maluku dengan menempatkan seorang resimen jendral bernama Bryant Martin. Namun sesuai konvensi London tahun 1814 yang memutuskan Inggris harus menyerahkan kembali seluruh jajahan Belanda kepada pemerintah Belanda, maka mulai tahun 1817 Belanda mengatur kembali kekuasaannya di Maluku.

Pahlawan

Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Thomas Matulessy yang diberi gelar Kapitan Pattimura, seorang bekas sersan mayor tentara Inggris. Pada tanggal 15 Mei 1817 serangan dilancarkan terhadap benteng Belanda ''Duurstede'' di pulau Saparua. Residen van den Berg terbunuh. Pattimura dalam perlawanan ini dibantu oleh teman-temannya ; Philip Latumahina, Anthony Ribok, dan Said Perintah. Berita kemenangan pertama ini membangkitkan semangat perlawanan rakyat di seluruh Maluku. Paulus Tiahahu dan putrinya Christina Martha Tiahahu berjuang di Pulau Nusalaut, dan Kapitan Ulupaha di Ambon. Tetapi Perlawanan rakyat ini akhirnya dengan penuh tipu muslihat dan kelicikan dapat ditumpas kekuasaan Belanda. Pattimura pada tanggal 16 Desember 1817 dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan, di Fort Niew Victoria, Ambon. Sedangkan Christina Martha Tiahahu meninggal di atas kapal dalam pelayaran pembuangannya ke pulau Jawa dan jasadnya dilepaskan ke laut Banda.

0 komentar:

Post a Comment